REMBANG – Alunan seni Barongan Gembong Condro Mowo asal Pamotan membahana di kawasan pesisir Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Suasana riuh nan sarat magis itu menjadi pembuka kemeriahan Festival Garam 2026 yang resmi digelar pada Sabtu (17/10/2026).
Festival tahunan bertema “MEMETRI KAWITANE UYAH” ini bukan sekadar selebrasi biasa. Agenda megah tersebut turut dihadiri deretan pejabat penting, mulai dari perwakilan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI, hingga Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang.
Lukisan Garam Raksasa dan Jejak Rekor MURI
Bukan Festival Garam namanya jika tidak menghadirkan mahakarya ikonik yang memanjakan mata. Pada helatan keempat kalinya ini, panitia kembali membentangkan karya kolosal berupa lukisan di atas lahan pertambakan dengan skala yang makin raksasa.
Sebagai catatan, lukisan media garam di Dasun ini telah menorehkan tinta emas dalam sejarah budaya nasional. Karya unik tersebut pernah menyabet rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai lukisan garam terbesar di dunia saat pertama kali digagas pada edisi perdana tahun 2023 silam.
Kolaborasi Petani Garam dan Seniman
Kurator Festival Garam, Eggy Yunaedi, membeberkan kisah mendalam di balik mahakarya visual ini. Menurutnya, proses kreatif lukisan garam senantiasa memosisikan karya sebagai ruang kolaborasi sejati antara petani garam Dasun dan para seniman papan atas.
“Kolaborasi yang kami maksud bukan cuma saat pembuatan lukisan di lapangan, tapi sejak awal perumusan gagasan. Apa yang mau disampaikan dan dilukiskan, dibahas bersama antara pelukis dan petani garam,” ujar Eggy saat ditemui wartawan Disway di lokasi acara, Sabtu (17/10/2026).
Warisan Gagasan Nasirun
Eggy menceritakan, gagasan awal melukis edisi ini sejatinya lahir dari perbincangan mendalam bersama Maestro Seni Rupa Indonesia, (Alm) Nasirun. Mendiang Nasirun sempat menyerap seluruh kisah, keluh kesah, hingga harapan para petani garam Dasun sebelum akhirnya menyusun sketsa dan konsep filosofis karya tersebut.
Dalam konsepnya, Nasirun menempatkan simbol sesaji di tengah pertambakan sebagai wujud rasa syukur dan pengharapan. Tak hanya itu, ragam biota laut seperti ikan, kepiting, hingga cumi-cumi turut dihadirkan bersama ekosistem pendukung lainnya, hingga rimbunnya hutan bakau di kawasan Dasun.
Pesan moril mendalam pun disisipkan lewat rincian aktivitas petani garam dan nelayan lokal. Mahakarya ini menegaskan bahwa pekerjaan memanen garam dan melaut bukan sekadar urusan mengisi perut, melainkan sebuah “laku kehidupan” untuk memuliakan alam yang dipercayakan Sang Maha Pencipta.
Namun, takdir berkata lain ketika Sang Kuasa memanggil mendiang Nasirun. Semangat dan warisan konsep sang maestro lantas diteruskan, diinterpretasikan ulang, serta digagas kembali oleh 10 seniman muda berbakat hasil seleksi yang diambil dari Jakarta, Jatiwangi, Yogyakarta, Pati, Jepara, hingga Kediri.
Proses Kreatif di Lahan Tambak
Proses pengerjaannya pun terbilang fantastis dan menguras energi. Karya raksasa ini memanfaatkan lahan tambak seluas 1.880 meter persegi yang terbagi dalam 11 petak pertambakan, serta menghabiskan stok garam lokal hingga sekitar 8 sampai 9 ton.
“Pengerjaan melukisnya sendiri memakan waktu 3,5 hari dari tanggal 14 sampai 16 Oktober, ditambah finishing touch. Tapi kalau dihitung dari pengeringan tambak selama 5 hari, pengukuran jarak, hingga pembuatan sketsa, total prosesnya memakan waktu sekitar 10 hari,” jelas Eggy merinci.
Tantangan Melukis di Atas Tambak
Tingkat kesulitan tinggi pun sempat membayangi para pelukis yang terbiasa menggambar di media mural atau baliho. Keluasan lahan tambak membuat para seniman sempat kehilangan orientasi spasia seperti kesulitan melihat proporsi kepala dan ekor gambar ikan yang terpisah jauh di atas petak tambak.
Apresiasi Kepala Desa Dasun
Sementara itu, Kepala Desa Dasun, Sujarwo, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas terselenggaranya festival ini. Ia menyebut hajatan besar yang bertepatan dengan momen panen raya garam ini merupakan buah dari kesabaran dan perjuangan panjang sejak pengajuan proposal di tahun 2025.
Sujarwo menegaskan, festival ini menjadi panggung kehormatan untuk mengangkat harkat garam komoditas vital yang dihasilkan dari perpaduan empat elemen alam dan telah menjadi sumber penghidupan warga Dasun secara turun-temurun dari era leluhur hingga kini.
“Melalui tema Memetri Kawitane Uyah, kami ingin menegaskan kembali khususnya kepada generasi muda, bahwa garam tidak boleh dipandang sebelah mata. Garam lahir dari proses alamiah yang sangat luar biasa,” pungkas Sujarwo, sembari mengenang rekam jejak mahakarya Dasun yang pernah diboyong pameran ke Sangkring Art Space Yogyakarta hingga Museum Bahari Jakarta bersama 11 negara asing.





Komentar