TUBAN – Mbah Kertojoyo (yang juga kerap ditulis sebagai Mbah Kertowijoyo) adalah salah satu sosok pelarian politik, pejuang, sekaligus waliyullah tersembunyi yang jejak sejarahnya membentang di sepanjang bantaran Bengawan Solo. Tokoh agung yang makamnya terletak di Desa Bandungrejo, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur ini merupakan representasi nyata dari konsep uzlah—mengasingkan diri dari hiruk-pikuk kekuasaan demi menjaga keteguhan iman dan menolak tunduk pada kolonialisme.
Berikut adalah ulasan mendalam mengenai sejarah, perjuangan, dan karamah tersembunyi dari Mbah Kertojoyo:
Identitas Asli: Sang Pangeran dan Dzurriyah Nabi
Bagi masyarakat awam selama ratusan tahun, beliau hanya dikenal sebagai sesepuh desa atau cikal bakal biasa. Namun, sejarah mencatat bahwa nama asli Mbah Kertojoyo adalah Sayyid Abdurrahman bin Abu Bakar al-Husaini. Beliau merupakan seorang keturunan (dzurriyah) Rasulullah SAW sekaligus pangeran atau panglima perang tingkat tinggi dari era Kerajaan Mataram Islam saat dipimpin oleh Amangkurat II.
Sebagai seorang bangsawan militer, beliau memiliki kecakapan luar biasa dalam strategi perang, ilmu kanuragan (beladiri), sekaligus kedalaman ilmu agama Islam.
Pelarian Politik dan Pembangkangan Terhadap VOC
Kisah hidup Mbah Kertojoyo berbalik arah ketika konstelasi politik Mataram mulai disusupi oleh kekuatan asing. Saat Sultan Amangkurat II memilih bersekutu dengan kompeni Belanda (VOC) untuk menumpas pemberontakan Trunojoyo, Sayyid Abdurrahman berada di persimpangan jalan. Baginya, bersekutu dengan kaum penjajah yang menindas rakyat adalah sebuah pengkhianatan moral dan iman.
Beliau akhirnya memilih membantu Raden Tumenggung Cakraningrat (Madura) dan sisa-sisa pasukan pejuang untuk melawan dominasi VOC. Namun, setelah perlawanan tersebut berhasil dipadamkan oleh kekuatan gabungan Mataram-VOC, Sayyid Abdurrahman menjadi salah satu buronan politik paling dicari oleh intelijen (telik sandi) Mataram dan Belanda.
Demi menyelamatkan diri dan melanjutkan perjuangan spiritualnya, beliau melarikan diri ke arah hilir Bengawan Solo. Di sinilah beliau mengubah namanya menjadi Kertojoyo (atau Kertowijoyo) untuk menyamarkan identitas ningrat dan militernya.
Menjadi Penyembuh dan Penyebar Islam di Bandungrejo
Mbah Kertojoyo akhirnya menetap di sebuah kawasan hutan yang angker dan sepi di tepi Bengawan Solo, yang kini dikenal sebagai Desa Bandungrejo, Tuban. Di tempat perasingannya ini, beliau melebur dengan rakyat jelata.
Beliau tidak lagi mengangkat pedang, melainkan menyebarkan syiar Islam dengan pendekatan yang lembut. Mbah Kertojoyo dikenal luas oleh masyarakat sekitar sebagai tabib atau pakar pengobatan yang ampuh. Siapa pun yang datang mengeluh sakit, baik fisik maupun batin, disembuhkan oleh beliau sembari disisipi ajaran tauhid dan nilai-nilai luhur Islam. Kebaikan dan karamahnya membuat beliau sangat dicintai dan dihormati sebagai waliyullah hingga akhir hayatnya.
Karomah yang Terungkap oleh Gus Dur
Pasca-wafatnya Mbah Kertojoyo, makamnya di Astana Krebut sempat terbengkalai selama ratusan tahun di tengah rimbunnya pohon-pohon besar. Karena minimnya literasi sejarah yang tersisa, tempat tersebut sempat disalahgunakan oleh sebagian masyarakat sebagai tempat klenik. Banyak orang datang ke sana bukan untuk beribadah, melainkan melakukan ritual mistis demi mendapatkan nomor lotere (SDSB pada masa itu) atau pesugihan.
Misteri agung makam ini baru terkuak pada awal tahun 1990-an. Presiden RI ke-4, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), bersama ulama kharismatik KH. Abdullah Faqih Langitan, datang langsung ziarah ke lokasi tersebut.
Dengan mata batin spiritualnya, Gus Dur menegur para tokoh agama setempat karena membiarkan makam seorang wali besar dijadikan tempat kemusyrikan. Gus Dur menegaskan bahwa yang bersemayam di sana bukanlah tokoh mistis, melainkan Sayyid Abdurrahman, seorang pejuang, dzurriyah Nabi, dan waliyullah.
Sejak intervensi Gus Dur dan dibantu oleh ulama lokal seperti KH. Abdurohman Sunoko, situs makam Mbah Kertojoyo dibersihkan, dipugar, dan dikembalikan fungsinya sebagai pusat ziarah spiritual yang Islami melalui pembacaan tahlil dan doa.
Warisan Sejarah yang Tak Ternilai
Di kompleks makam Mbah Kertojoyo, selain cungkup makam, juga ditemukan objek cagar budaya yang sangat penting, yaitu Prasasti Bandungrejo (Prasasti Tuban) yang berangka tahun 1355 Masehi. Prasasti kuno era Majapahit ini menjadi satu-satunya prasasti di Indonesia yang menyebut nama “Tuban” secara eksplisit.
Mbah Kertojoyo adalah simbol dari kesetiaan pada kebenaran. Kisah hidupnya mengajarkan kita bahwa pangkat, jabatan, dan asal-usul ningrat tidak ada artinya jika harus ditukar dengan tunduk pada penindasan penjajah. Pilihan hidupnya untuk menyepi dan mengabdi pada rakyat kecil menjadikannya abadi di hati para peziarah hingga hari ini.





Komentar